Ini Penyebab Stres Mahasiswi Lebih Tinggi Dari Mahasiswa



PEKANBARU - Tingkat tekanan (stress) mahasiswi Universitas Riau (Unri) lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat tekanan mahasiswa. Hal ini antara lain disebabkan karena perempuan punya perhatian lebih terhadap sesuatu dan memiliki perasaan yang lebih perasa dibandingkan dengan laki-laki. Mahasiswa cenderung tidak peduli atau cuek terhadap masalah-masalah kecil yang dihadapi.

Padahal, perilaku belajar dan dukungan sosial mahasiswi justru lebih baik dibandingkan mahasiswa. Perilaku belajar itu antara lain kebiasaan mengikuti pelajaran, membaca buku, kunjungan ke perpustakaan, dan menghadapi ujian. Sedangkan dukungan (sokongan) sosial itu berasal dari teman-teman, orangtua, dosen, pembimbing dan masyarakat.

Demikian kesimpulan penelitian Aura Madani Fenika, (21), mahasiswi tingkat sarjana (S1) Jurusan Psikologi, Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), terhadap seluruh mahasiswa S1 Universitas Riau (Unri). Penelitian yang dilakukan Februari 2019 itu berjudul ‘’Pengaruh Sokongan Sosial dan Tingkah Laku Belajar terhadap Tekanan dalam Kalangan Pelajar Universitas Riau’’.   

Peneitian ini mengambil populasi seluruh mahasiswa S1 Unri dari semua fakultas yang berjumlah 28.722 orang. Dengan metode Slovin diambil sampel 395 orang yang dipilih secara proporsional.  Hasil penelitian ini mengantarkan Aura untuk menyelesaikan pendidikannya di UKM Malaysia. ‘’Setelah melakukan internship selama dua bulan, Insya Allah, pada 4 November nanti saya diwisuda,’’ ujar Aura, putri pertama anggota Dewan Pendidikan Provinsi Riau, Fendri Jaswir kepada wartawan di Pekanbaru, Selasa (10/9/2019).

Dijelaskan, ada lima tingkat tekanan (stress) yakni tekanan normal, ringan, sedang, berat dan sangat berat. Tekanan normal seperti detak jantung lebih cepat, merasa capek, takut atau risau tidak lulus. Tekanan ringan seperti dimarahi dosen, macet di jalan, yang memunculkan sulit bernafas, bibir terasa kering, badan terasa lemas, keringat berlebihan, dan takut tanpa alas an. Tekanan sedang seperti pertengkaran yang tidak dapat diselesaikan sehingga memunculkan gejala mudah tersinggung, mudah lelah, marah, sulit istirahat dan gelisah.

Sedangkan berat seperti kegaduhan atau kesalahpahaman dengan dosen atau rekan secara jangka panjang. Tekanan ini menimbulkan gejala tidak berminat atau semangat untuk beraktfitas, selalu ingin menyerah, merasa tidak dihargai orang lain, dan merasa tidak punya harapan di masa datang. Sementara tekanan sangat berat memakan waktu cukup lama dengan kecenderungan mudah pasrah dan tidak memiliki motivasi dalam kehidupan, serta kemurungan yang berat.

Menurut Aura, dari penelitian ini ternyata tidak ada hubungan signifikan antara dukungan sosial dan perilaku belajar dengan tekanan. Boleh jadi bagi mahasiswa Unri dukungan sosial dan tingkah laku belajar tidak memiliki kaitan terhadap tekanan yang mereka rasakan. Namun dukungan sosial memiliki kaitan dengan tingkah laku pada aktifitas belajar.

Meskipun demikian, kata alumni SMAN 4 Pekanbaru ini,  tingkah laku belajar dan sokongan sosial memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat tekanan mahasiswa. Artinya, jika mahasiswa mendapat sokongan sosial yang baik, maka mengalami tahap tekanan yang rendah. Begitu pula dengan mereka yang berprilaku belajar baik akan mengalami tahap tekanan rendah.

Karena itu, saran Aura, sokongan sosial dan perilaku belajar penting untuk mengurangi  tekanan (stress)  mahasiswa Unri. Sokongan sosial itu berasal dari ibubapa, suami, isteri, anak-anak, saudara terdekat, teman-teman, dosen, pembimbing dan masyarakat sekitar. Mahasiswa juga harus memperbaiki perilaku belajar dengan menyusun, merancang, dan memperbaiki kebiasaan. (Ru)